Pro Kontra Netizen: Ketua BEM UGM Sebut Presiden Bodoh, Cuma Buat FYP?
Oleh: Tri Lukman Hakim, S.H | Founder Kuncipro
Halo warga internet! Jagat medsos lagi nggak baik-baik saja. Kolom komentar di X, TikTok, Facebook sampai Instagram lagi penuh sama "gorengan" isu panas dari Ketua BEM UGM yang berani spill kata-kata kasar ke pimpinan nasional. Ada yang bilang "Menyala Abangku!", tapi banyak juga yang bilang "Nggak ada adab!".
Sebagai Netizen KunciPro, kita jangan cuma jadi penonton yang hobi scrolling doang. Mari kita bedah pakai logika dingin: Apakah narasi "Presiden Bodoh","Maling Berkedok Gizi" ini beneran kritik yang insightful atau cuma sekadar cari panggung biar viral?
1. Netizen Kubu Pro: "Kritik Harus Keras!"
Kubu ini biasanya paling semangat nge-share cuplikan video orasi mahasiswa. Alasannya simpel: masyarakat sudah capek sama janji-janji manis. Bagi netizen kubu pro, kata "Bodoh" dianggap sebagai wakil dari rasa frustasi rakyat soal harga beras yang naik, iuran sekolah yang mencekik, sampai susahnya cari kerja.
Tapi bentar, buat netizen pro, kalian harus sadar: Kritik yang cuma modal "gaspol" tanpa data itu gampang banget digoreng balik jadi isu pencemaran nama baik. Jangan cuma berani teriak di lapak orang, tapi giliran ditanya solusi malah bingung.
2. Netizen Kubu Kontra: "Mana Etika Mahasiswanya?"
Kubu ini biasanya diisi oleh netizen yang menjunjung tinggi sopan santun (atau memang tim hore pimpinan). Mereka fokus ke "cara ngomongnya", bukan "isinya". Bagi mereka, mahasiswa itu kaum intelektual, jadi kalau ngomong harusnya pakai data, bukan caci maki.
Tapi buat netizen kontra, kalian juga jangan menutup mata. Seringkali narasi "etika" dipakai cuma buat membungkam substansi. Kalau kita cuma sibuk bahas adab, kita jadi lupa bahas fakta kalau di lapangan memang banyak birokrasi yang "sakit" dan bikin rakyat susah.
3. Tamparan Logika: Presiden Cuma Jadi Kambing Hitam?
Nah, di sini KunciPro mau kasih POV (Point of View) yang beda. Netizen harus pinter: Tahu nggak kalau kalian sering banget salah sasaran? Kalian hobi nyalahin Presiden soal ketiadaan lapangan kerja, padahal yang bikin syarat kerja "ngadi-ngadi" (maksimal usia 22 tahun tapi pengalaman 5 tahun) itu adalah HRD perusahaan, bukan instruksi Presiden!
Presiden itu ibarat Sopir, tapi Mesinnya (Birokrasi) sudah bobrok dari akarnya. Mau ganti sopir tiap hari pun, kalau mesinnya nggak pernah diamputasi, nasib kalian sebagai netizen yang nyari kerja bakal tetep sama. Inilah yang kami sebut sebagai "Pembusukan Akar Birokrasi".
4. Lingkaran Setan Yang Menyenangkan
Kita juga tahu jejak digital sangat berpengaruh untuk karir seseorang, jika ketua BEM UGM sangat frontal akan sangat sulit berkarir di Pemerintahan, disatu sisi namanya terblacklis sistem disatu sisi gengsi dong mau masuk kejajaran yang dianggapnya bodoh.
Kemana karir yang bisa ditempuh? Jika untuk perusahaan, ini mah 11 12 sama pemerintah, perusahaan sekarang sering googling nama kita sebelum mau menerima kita. Masak iya aktivis tajam jadi buruh kuli, ya salah satu yang bisa ditempuh masuk ke legislatif, ikut partai jadi oposisi, dan ketika partai dia menang, dia yang berkuasa dan didemo oleh mahasiswa penerus.
Ini adalah redirect loop lingkaran setan yang menyenangkan, karena selama ini aktivis mahasiswa ya ujung ujungnya lari ke parpol, sangat sedikit yang tetap bersuara didalam keheningan internet.
5. Jangan Cuma Jadi "Netizen Tunawisma" di Lapak Orang!
Buat netizen yang punya opini tajam, berhentilah cuma jadi pengetik komentar yang gampang ilang ditelan algoritma. Kalian itu berharga, tapi narasi kalian "tunawisma" karena numpang di rumah orang (sosmed). Begitu akun di-report, hilang semua jejak pemikiran kalian.
Kenapa nggak mulai bangun Rumah Intelektual sendiri? Lihat KunciPro, kami punya portal sendiri untuk netizen, hukum, sampai riset internasional. Kami nggak cuma teriak di TikTok, tapi kami kunci narasi kami di website profesional yang terpercaya. Inilah cara jadi netizen yang naik kelas!
6. Solusi Buat Netizen yang Mau Bermartabat
Mau narasi kalian didengar pejabat atau akademisi? Bangun website sendiri. Saya pribadi pakai Hostinger buat semua jaringan KunciPro. Kenapa? Karena netizen butuh kecepatan (LiteSpeed) dan keamanan biar nggak gampang di-takedown.
Bayar hosting di Hostinger itu lebih murah daripada jajan kopi sebulan, tapi efeknya bikin kalian jadi "Netizen Otoritas". Kalian bisa nulis artikel audit, pasang link jurnal (kayak 16 jurnal internasional saya di Zenodo), dan dapet respect yang nyata.
Gak usah kebanyakan gaya di kolom komentar orang, mending bangun "kerajaan" narasi sendiri di sini:
👉 [Mengapa Aktivis dan Mahasiswa Harus Punya Website Sendiri Untuk Bersuara?]

Suara Netizen